Beberapa teknik dasar yang harus dikuasai dalam menggambar komik adalah kecuali

Lihat Foto

Pinterest

Gambar dengan teknik pointilis

KOMPAS.com - Aktivitas menggambar biasanya dilakukan di atas bidang datar dengan menggunakan pensil, drawing pen, krayon, atau sejenisnya.

Cara paling mudah untuk menggambar ialah dengan memperhatikan objek atau modelnya secara langsung. Sehingga hasilnya nanti bisa menyerupai bentuk aslinya dan mengandung nilai keindahan.

Menurut Rantinah dalam buku Teknik Menggambar Benda dan Melukis (2019), aktivitas menggambar diawali dengan pengamatan objek, pembuatan outline dan detailnya, serta mengarsir objek di atas bidang datar.

Agar bisa menghasilkan gambar yang indah, ada beberapa teknik yang harus dipelajari dan dikuasai dalam menggambar. Apa sajakah itu?

Baca juga: Macam-Macam Teknik Melukis

Teknik pointilis

Teknik pointilis dilakukan dengan membuat titik-titik kecil pada bidang datar, seperti kanvas atau kertas gambar. Titik yang dibuat ini dilakukan secara berulang sehingga membentuk hasil gambaran atau objek yang diinginkan.

Dalam melakukan teknik pointilis, membutuhkan kesabaran yang tinggi. Karena penggambaran objek tidak dilakukan dengan arsiran, namun dengan membuat titik-titik. Penerapan teknik ini bisa dilakukan dengan pensil atau drawing pen.

Teknik arsir

Lihat Foto

pinterest.com

Ilustrasi arsiran

Lihat Foto

Pinterest

Ilustrasi arsiran

Menurut Deddy Award. W. Laksana dalam diktat Menggambar, teknik arsir dilakukan dengan membuat garis menyilang atau sejajar. Sehingga hasil gambarannya bisa terlihat seperti tiga dimensi.

Dalam mengarsir objek, harus ditentukan tingkat ketebalan dan ketipisannya. Karena berpengaruh pada gelap atau terangnya objek gambar. Penerapan teknik arsir bisa dilakukan dengan menggunakan spidol, pensil, drawing pen, dan alat lainnya.

Teknik blok

Lihat Foto

Freepik

Ilustrasi gambar dengan teknik blok

Teknik blok digunakan untuk membuat hasil gambaran berupa siluet. Teknik ini dilakukan dengan membubuhkan dan memenuhi objek dengan satu warna. Contohnya warna hitam atau warna lainnya.

Oleh karena hasil gambarannya berupa siluet, maka fokus utama saat menggambar bukanlah pada detail objeknya, tetapi pada proses pembuatan siluetnya.

Baca juga: Teknik Menggambar Bentuk Silindris

Lihat Foto

www.dailymail.co.uk

Badan wisatawan lokal telah menyewa kontraktor untuk melaksanakan pekerjaan yang hanya melukis di atas lukisan aslinya dengan cara terkesan norak, yaitu lukisan kartun menyerupai tokoh yang menggambarkan adegan dari mitos Tao.

KOMPAS.com - Menggambar ilustrasi memiliki beberapa pakem yang harus kamu ketahui. Pakem tersebut menjadi dasar agar bisa menggambar dengan baik.

Gambar ilustrasi adalah kegiatan yang membutuhkan keterampilan menggambar bentuk.

Gambar yang dibentuk harus dapat memperjelas, mempertegas, dan memperkuat cerita atau narasi yang menjadi tema gambar.

Dikutip dari situs Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), agar gambar ilustrasi dapat dibuat dengan baik dan memenuhi sasarannya (isi teks) harus memperhatikan beberapa hal. 

Berikut dasar-dasar pembuatan gambar ilustrasi: 

Penguasaan Teknik

Untuk menghasilkan penampakan gambar yang menarik dipengaruhi oleh keahlian pelukisnya.

Baca juga: Menggambar Ilustrasi: Pengertian dan Sejarah Ilustrasi 

Objek ilustrasi menjadi indah ketika dibuat oleh pelukis yang memiliki penguasaan pada menggambar bentuk yang sudah baik dan menarik.

Penguasaan teknik menjadi prinsip karena menjadi sebuah bentuk hubungan antara pembuat dengan gambar yang dihasilkan. 

Ada beberapa teknik menggambar yang bisa digunkan oleh pelukis, yakni:

Teknik arsir merupakan teknik menggambar ilustrasi yang menggunakan garis-garis sejajar atau menyilang untuk menentukan gelap terang objek suatu gambar. 

Menggambar komik berarti menggambar dengan memperhatikan dua disiplin ilmu sekaligus. Hal itu terjadi karena komik merupakan karya seni yang melibatkan gambar dan kata-kata secara bersamaan. Oleh karena itu, komik memiliki struktur kompleks yang terbagi menjadi  dua kelompok unsur, yaitu unsur visual dan unsur teks. Boleh dikatakan komik memiliki struktur teks cerita dari sastra dan unsur visual dari seni rupa atau desain. Lalu sebetulnya apa itu komik? Bagaimana langkah-langkah menggambar komik? Alat apa yang digunakan? Ikuti pemaparannya di bawah ini.

Pengertian Komik

Menurut Danesi (2004, hlm. 223), komik adalah narasi yang dibuat melalui beberapa gambar berderet yang disekat oleh garis-garis horizontal, strip atau kotak (panel), dan dilengkapi oleh teks verbal dari kiri ke kanan (runtut).

Meskipun komik dilengkapi oleh bahasa verbal berupa kata-kata, namun gambar dalam komik sendiri dapat memberikan pesan non-verbal. Gambar, terutama gambar berderet dapat menghasilkan suatu pesan tanpa kata-kata. Semua komik secara tidak langsung akan memuat pesan dari gambar seperti itu. Dengan demikian, pesan dari gambar juga harus diperhatikan, dan harus dibuat membantu menyampaikan pesan dari balon kata.

Selanjutnya, Setiawan (2002, hlm. 22) berpendapat bahwa pengertian komik secara umum adalah cerita bergambar yang biasanya terdapat dalam majalah, surat kabar, atau berbentuk buku komik yang pada umumnya memiliki cerita yang mudah dicerna dan lucu.

Beberapa Ahli berpendapat bahwa komik sama dengan cerita bergambar. Namun dalam cerita bergambar, biasanya gambar hanya digunakan untuk menjadi ilustrasi untuk cerita. Gaya peletakan balon kata dalam cergam juga terbatas, sementara komik menggunakan balon kata yang jauh lebih dinamis dan kompleks. Komik lebih cocok disebut sebagai gambar yang bercerita, bukan cerita bergambar.

Dapat disimpulkan bahwa komik adalah karya seni yang terdiri dari komposisi gambar dan tulisan/huruf sebagai sarana untuk menyampaikan pesan atau cerita melalui teks atau verbal, maupun non verbal (pesan atau cerita yang dihasilkan oleh gambar).

Konsep Menggambar Komik

Menggambar komik tidak hanya menuntut kemampuan menggambar yang baik saja, akan tetapi membutuhkan keterampilan membangun karakter, tokoh dan runtutan peristiwa dari suatu kisah. Kemampuan untuk menyelaraskan pesan lewat gambar dan tertulis juga menjadi kemampuan yang harus diasah untuk menciptakan komik yang baik.

Gambar harus sesuai dengan tulisan, begitu juga sebaliknya, tulisan harus mampu memberikan konteks yang tepat bagi gambar. Tanpa keselarasan, keduanya tidak akan saling membantu untuk menceritakan kisah atau pesan yang ingin disampaikan dengan baik dan jelas. Gambar dan tulisan yang tidak selaras justru malah akan mengaburkan cerita yang ingin dikisahkan.

Maka dari itu, hampir dapat dikatakan bahwa menggambar komik memiliki syarat khusus yang harus diikuti. Berikut akan disampaikan mengenai “syarat” memnggambar komik tersebut.

Syarat Menggambar Komik

1. Menentukan Topik dan Tujuan

Topik adalah hal utama yang harus ditentukan dalam menggambar komik. Agar semua yang berhubungan dengan teknis komik dapat ditentukan juga dari awal. Imaji atau pencitraan yang tercipta melalui komik harus sesuai dengan topiknya. Tujuan komik juga penting untuk ditentukan. Misalnya, apakah komik bertuuan menyampaikan suatu pesan tertentu, atau hanya berupa hiburan saja.

Komik adalah media yang tidak hanya dapat digunakan untuk menghasilkan hiburan semata. Bisa saja kita menggunakan media yang powerful ini untuk menyampaikan tata-cara teknis tertentu. Misalnya komik ditujukan untuk menunjukkan bagaimana teknis pelaksanaan upacara yang baik, cara mencuci tangan yang bersih, petunjuk untuk melakukan sesuatu, dan sebagainya.

Melalui tema, topik, dan tujuan yang telah ditentukan, kita juga dapat mulai menentukan tokoh dan karakter yang akan dibuat. Fungsi tema di dalam menggambar komik adalah untuk menjadi acuan bentuk visualisasi dan kata yang cocok untuk memperkuat gambar visual terhadap pesan atau cerita komik. Misalnya, ketika kita tau bahwa tema komik adalah tema relijius, maka kita harus menciptakan berbagai tokoh dan gaya gambar yang relijius pula.

Selanjutnya, kita dapat menentukan watak dan peran tokoh atau karakter yang akan kita tampilkan dalam komik. Ya, fungsi penentuan karakter dan tokoh merupakan hal penting dalam menggambar komik, karena tokoh atau karakterlah yang berperan menjadi aktor dalam cerita. Mereka memegang peranan utama dalam menceritakan suatu kisah atau pesan yang ingin disampaikan dalam suatu komik. Oleh karena itu, terdapat pula hal-hal yang diperhatikan saat menggambar tokoh, yaitu:

  1. keselarasan anggota tubuh,
  2. perspektif yang tepat, dan
  3. sisi menarik dari tokoh tersebut (karakter kuat).

Menggambar komik juga dapat diibaratkan sama seperti menulis cerpen, namun kita tidak hanya bercerita melalui kata, namun melalui aspek visual (gambar) juga. Komik bahkan dapat dibuat berdasarkan cerita yang sudah ada, misalnya berbagai cerita rakyat yang sudah ada seperti Timun Mas, Malin Kundang, hingga ke Cinderella dan kisah terkenal lainnya. Proses tersebut biasanya disebut dengan proses transformasi (mengubah cerpen/sastra menjadi komik).

2. Membuat Kalimat Singkat dan Mudah Diingat

Komik harus dibuat dengan kalimat yang singkat dan mudah diingat. Mengapa? karena teks yang dapat disematkan dalam komik terhitung cukup terbatas. Hal itu berkaitan dengan kenyataan bahwa gambar akan jauh lebih mendominasi jumlahnya dalam sebuah komik. Untuk itu, pilihlah kata yang singkat namun cukup jelas.

Selain itu berbagai dialog yang terdapat pada komik haruslah mudah diingat. Buatlah kalimat yang berkesan dan sesuai dengan gambar pendukungnya. Sehingga pesan atau kisah yang disampaikan komik dapat dengan mudah dicerna dan dapat diingat dengan baik oleh pembaca.

3. Menggunakan Gambar

Menggunakan gambar di sini maksudnya bukan hanya sekedar gambar biasa saja. Gambar dalam komik bukan menjadi support atau penunjang jalan cerita yang ingin dikisahkan saja. Di dalam komik, gambar tidak hanya berupa ilustrasi untuk menunjang cerita, namun harus menjadi suatu kesatuan dengan teks yang ada. Gambar juga bahkan harus seakan dapat menghasilkan bunyi menggunakan tulisan sebagai penunjangnya.

Teknik Menggambar Komik

Menggambar komik membutuhkan kepiawaian dari beberapa teknik menggambar. Ketangkasan teknik menggambar tersebut antara lain menggambar model dan menggambar suasana. Mengapa? karena komik akan menampilkan kedua jenis gambar tersebut, baik secara bersamaan maupun berseri atau runtut.

Gambar model digunakan untuk menggambar tokoh yang ada dalam komik dengan detail. Sementara gambar suasana digunakan untuk membangun suasana dalam cerita komik. Jika keduanya digabungkan, secara tidak langsung kita akan membuat gambar ilustrasi yang dapat digunakan untuk membuat suatu adegan atau peristiwa dalam cerita komik.

Bahan dan Alat Menggambar Komik

Kebutuhan bahan dan alat gambar komik hampir sama seperti peralatan menggambar pada umumnya. Hanya saja ada beberapa alat khusus yang dapat membantu proses pembuatan komik secara manual.

Perlu diketahui bahwa meskipun kebanyakan hari ini komik diolah secara digital menggunakan perangkat komputer grafis, namun cara manual tetap digunakan. Apalagi pada berbagai komik karya agung yang mendunia. Kombinasi teknik manual dan digital masih memberikan hasil yang jauh lebih maksimal daripada menggunakan salah satunya saja. Berikut adalah beberapa bahan dan alat yang dapat digunakan untuk menggambar komik.

  1. Kertas Gambar
    Sudah dapat ditebak bahwa menggambar pasti membutuhkan media datar penampung gambar seperti kertas. Dalam menggambar komik, akan lebih mudah bila kita telah menyediakan kertas yang berukuran sesuai dengan ukuran kertas komik yang akan dicetak nantinya.
  2. Pensil Gambar
    Pensil masih menjadi alat utama menggambar disini. Shading tidak harus terlalu mendetail ketika menggambar masih menggunakan kertas. Pensil disini digunakan hanya untuk membuat sketsa atau outline. Komik biasanya akan dipertebal oleh pena atau drawing pen nantinya. Komik cenderung menggunakan alat yang dapat digunakan menggambar secara freehand tanpa kuas.
  3. Alat Pewarna
    Biasanya komikus professional menggunakan cat khusus yang tingkat saturasinya kuat. Karena komik cenderung membutuhkan warna murni yang pekat dan cerah. Media warna yang dapat digunakan meliputi: pensil warna, cat poster, crayon, dsb. Alat pewarna bisa jadi tidak diperlukan jika pewarnaan akan dilakukan pada aplikasi komputer grafis.
  4. Pena
    Pena biasanya lebih dipilih untuk menggambar garis luar (outline) komik. Mengapa demikian? karena dengan menggunakan pena untuk menggambar garis, kita dapat mengatur ketebalan garis dengan lebih mudah dan efisien. Bahkan, terdapat pena yang dirancang khusus untuk menggambar outline komik. Para Mangaka (pencipta komik manga ala Jepang) juga menggunakan pena ini. Pulpen lainnya juga dapat digunakan, terutama pulen yang dapat mencapai tingkat kehitaman yang sangat pekat dan memiliki banyak ukuran mata pulpen yang berbeda (dari kecil hingga besar).

Langkah-langkah Menggambar komik

Terdapat beberapa langkah-langkah yang dapat kita ikuti untuk menggambar komik. Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Tentukan tema komik
  2. Tentukan Isi atau jalan cerita
  3. Kembangkan tokoh-tokoh, baik secara teks (sifat tertulis) maupun gambar karakter
  4. Siapkan latar belakang cerita, dengan beberapa sampel visual wujud nyata gambar latar
  5. Buat alur cerita komik jika diperlukan
  6. Siapkan naskah berupa storyboard visual
  7. Mulai garap komik, adegan demi adegan sesuai dengan storyboard dan semua hal yang telah dipersiapkan (improvisasi sangatlah diperbolehkan).

Sebagai catatan, langkah-langkah tersebut hanya berlaku ketika kita benar-benar tidak tahu harus melakukan apa dari awal. Bisa jadi seorang komikus professional justru memulainya dari tokoh atau jalan cerita yang telah ia miliki, kemudian tema terbentuk dengan sendirinya, dsb.

Struktur Komik

Komik adalah produk multidisiplin yang setidaknya melibatkan sastra dan seni rupa. Maka dari itu, sebagai pertanggungjawaban wujud formal, struktur komik juga terbagi menjadi dua, yaitu: unsur teks cerita dan unsur visual. Berikut ini adalah pemaparannya.

Unsur Visual Komik

  1. Ilustrasi,
    Komik adalah sederetan gambar yang terangkai membentuk suatu alur peristiwa atau cerita. Masing-masing gambar atau secara berantai gambar-gambar tersebut membentuk suatu ilustrasi yang dapat menggambarkan suatu peristiwa atau cerita.
  2. Layout,
    Layout atau tata letak adalah bagaimana pengaturan panel (frame) antar gambar disusun. Bagaimana panel antar gambar saling berhubungan, pengaturan besar-kecilnya panel yang memuat ilustrasi, dsb.
  3. Sudut Pandang Kamera,
    Angle “kamera” yang berbeda dari setiap gambar komik akan memberikan dampak yang berbeda pula. Biasanya sudut pandang kamera dimainkan untuk mendapatkan efek dramatis tertentu, dsb.
  4. Psikologi,
    Setiap tokoh, jalan cerita dan pembentukan suasana yang ada di komik akan memberikan dampak psikologi yang berbeda. Komik seperti budaya populer lainnya banyak memainkan psikologi kita melalui gambar. Gambar dibuat meliuk-liuk untuk membuat kita tertawa. Di sisi lain gambar akan dibuat lebih gelap dan tegas untuk memberikan efek dramatis.
  5. Unsur Bunyi,
    Komik menghadirkan teks dengan tipografi dan typeface sedemikian rupa mampu menghadirkan unsur bunyi, meskipun tidak ada media suara asli yang dilibatkan, seperti: Bang! Gubrak! Woosh!

Unsur Cerita

  1. Tema,
    Merupakan inti pokok gagasan dari keseluruhan pesan atau cerita
  2. Tokoh dan Penokohan,
    Tokoh adalah pelaku cerita dengan sifat dan peranannya masing-masing, seperti tokoh utama (protagonis) atau tokoh antagonis yang memiliki konflik dengan protagonis.
  3. Alur atau Plot,
    Bagaimana rangkaian peristiwa yang terjadi saling berhubungan. Misalnya plot dimulai dengan pengenalan cerita, kemudian muncul awal konflik, terjadi konflik, hingga konflik terus memanas menjadi klimaks dan diakhiri oleh penyelesaian konflik/ending.
  4. Latar,
    Latar adalah tempat, waktu, dan lingkungan serta keadaan sosial dan tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam komik.
  5. Sudut Pandang,
    Cara menyampaikan cerita seperti sudut pandang pertama (Aku) dan sudut pandang ketiga (Dia, mereka).

Referensi

  1. Setiawan, Muhammad Natsir. (2002). Menakar Panji Koming Tafsir Komik Karya Dwi Koendoro. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.
  2. Danesi, Marcel. (2004). Pesan Tanda dan Makna: Buku Teks Dasar MengenaiSemiotika dan Teori Komunikasi. Yogyakarta: Jala Sutra